Home / Operator Sekolah / Gimana Nih, Nilai Ujian Ratusan Siswa di Bawah 55

Gimana Nih, Nilai Ujian Ratusan Siswa di Bawah 55

Siswa di Surabaya yang memperoleh nilai ujian nasional (unas) di bawah 55 masih cukup banyak. Bahkan, jumlahnya lebih tinggi dari tahun lalu.

Berdasar data Dinas Pendidikan Jawa Timur, siswa SMA dengan nilai di bawah 55 mencapai 132.970 siswa atau 85,13 persen. Untuk SMK, jumlah siswa dengan nilai di bawah 55 mencapai 55,47 persen.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Saiful Rachman menyatakan, jumlah nilai di bawah 55 meningkat dari tahun sebelumnya. Tahun lalu ada 29,96 persen siswa SMA dengan nilai di bawah 55. Untuk jenjang SMA, terdapat 44,2 persen tahun ini.

Saiful menyayangkan bertambahnya siswa dengan nilai di bawah 55 tersebut. Siswa SMK, misalnya. Mereka sudah mendapatkan bekal ilmu kejuruan, bahkan sertifikat kompetensi.

Namun, keilmuan yang lain juga perlu ditingkatkan secara teoretis. Saiful menyebutkan, meski bukan penentu kelulusan, nilai menjadi sangat penting untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi. Terutama dalam sertifikat hasil ujian.

”Nilai jadi sangat penting. Untuk bekerja, kalau nilai jelek, juga susah,” katanya. Karena itu, mewujudkan kualitas nilai agar menjadi lebih baik menjadi PR bersama.

Mantan kepala Badan Diklat Jawa Timur tersebut meminta para kepala cabang dinas pendidikan di kabupaten/kota untuk melakukan analisis.

Setiap kabupaten/kota perlu dilihat petanya. Kemudian, analisisnya diperkecil di setiap sekolah. ”Cabang dinas harus punya petanya masing-masing, lalu dicek bagaimana treatment-nya,” tuturnya.

Meski begitu, Saiful mengapresiasi nilai unas siswa di Jawa Timur yang cukup baik. Terdapat 15 ribuan siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) melalui jalur seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNM PTN).

”Nilainya diakses langsung oleh kementerian,” jelasnya. Pemerhati pendidikan Jawa Timur Zainuddin Maliki mengatakan, nilai di bawah 55 terjadi karena siswa banyak dididik secara behavioristis.

Artinya, segala tindakan siswa dilakukan melalui tekanan atau stimulus lebih dulu. Jadi, siswa cenderung mau belajar jika diminta atau menjelang ujian saja. Nah, jika stimulus atau tekanan tersebut dicabut, siswa tidak lagi memiliki motivasi. Karena itu, dalam pendidikan sehari-hari, siswa harus diajak belajar secara konstruktif.

Artinya, siswa tidak lagi bergantung pada tekanan dari luar ketika belajar. ”Tapi, tumbuh dari kesadaran diri yang kuat,” tuturnya. (editor : Farrel Studio)

Sumber : JPNN.com

About farrel Studio

Check Also

100 Soal Persiapan Ujian Seleksi PPG Tahun 2018 Bagian 3

Bagian 3.  Berikut ini akan disajikan soal-soal persiapan ujian seleksi PPG tahun 2018 kompetensi pedagogik yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Developer Farrel Studio !!
%d blogger menyukai ini: